Semin RT 02 RW 01 Desa Gunungsari Tetap Bertahan Dalam Usaha Batu Bata Merah Saat Pandemi Covid-19

Gunungsari- Dukuh Klagen merupakan salah satu sentra industri kecil rakyat khususnya pembuatan batu bata merah yang merupakan bahan pokok pembangunan rumah/ gedung/ tembok dan lain-lain.

Di Dukuh Klagen ini Bapak Semin (50) adalah salah satu warga desa Gunungsari yang mempunyai usaha pembuatan batu bata merah. Semin di bantu istrinya Sriyatun (45) dan mertuanya Kasmirah (60) setiap hari berada di tobong bata miliknya untuk mencetak batu bata merah yang di buatnya secara manual., dengan ukuran cetakan dari kayu yaitu panjang 20 cm, lebar 10 cm dan tebal 4 cm.Usaha yang dilakukan keluarga ini sudah lebih dari 10 tahun.

Proses pengadukan Tanah untuk di cetak menjadi batu bata merah

Semin melaksanakan proses pencetakan batu bata merah

Pemilihan lahan tanah untuk membuat bata merahnya adalah dari tanah yang memiliki tekstur sangat liat dan tidak mengandung pasir adalah pilihannya yang paling baik. Dalam dua hari mereka bertiga bisa mencetak 1000 buah bata merah mentah, mulai dari pengedukan, pencampuran sampai pencetakan. Setelah di cetak lalu di keringkan, setelah dapat 7000 sampai 10.000 buah bata merah kering baru mulai pembakaran.

Kegiatan Semin sekeluarga dalam pembuatan batu bata merah

Pembakaran batu bata merah kering tersebut sampai matang memerlukan waktu selama 5 hari 5 malam, dan setelah matang batu bata merah di diamkan dulu selama 2 hari agar dingin. Setelah dingin bata merah di langsiri keluar tobong, oleh kuli langsir. Biasanya kuli langsirnya adalah ibu-ibu, dengan pembayaran tiap 1000 bata merah di beri imbalan Rp 10 ribu. Untuk penjualannya batu bata merah ditempat, di jual tiap 1000 batu bata merah sesuai harga pasaran bisa mencapai Rp 500 ribu.

Batu bata merah kering di dalam tobong, setelah terkumpul 10 ribu baru siap untuk proses pembakaran

Kendala usaha pembuatan batu bata merah adalah hujan sebab jika hujan proses pengeringan akan lama tapi jika cuaca panas proses pembuatan batu bata merah akan cepat dan bagus.

Di masa Pandemi New Normal ini pemasaran bata merah Semin kurang lancar,karena berkurangnya permintaan pesanan dan turunnya daya beli masyarakat untuk bata merah di saat pandemi covid 19. Walau permintaan menurun, setiap harinya Semen sekeluarga tetap menjalani proses pembuatan Bata Merah, untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya di masa pandemi covid 19 walau penghasilannya menurun.

Semin memasukan batu bata merah kering di dalam tobong

Semin menjelaskan, “Dengan usaha pembuatan batu bata merah ini, sebelum pandemi covid 19 usahanya lancar sekali, sehingga Dia sekeluarga bisa memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Dan saat masa pandemi covid 19 harus pandai – pandai mengatur keuangan sehingga bisa memenuhi kebutuhan keluarganya walau dengan penghasilan pas- pasan dari pendapatan penjualan batu bata merah, “ ungkapnya.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Komentar